Jika setiap detik yang terlampaui adalah rahmat,
maka tunjukanlah aku cara untuk menuju padanya
agar tak lepas karunia itu dariku tanpa makna
Jika setiap menit yang terlewati adalah busur yang akan membawaku
lebih dekat pada cahaya
maka tunjukanlah padaku cara mengasah mata hati
agar tak hilang rasa sayang yang menyelimuti
Jika waktu yang berlalu adalah pendakian atas puncak keindahan
maka sesungguhnya tidak ada petunjuk yang paling terang selain mentariMu
Tuhan,,,
hangatkan diriku dengan sinarMu
kuatkan aku dengan sabdaMu
Tampilkan postingan dengan label kataQu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kataQu. Tampilkan semua postingan
Rabu, 10 Agustus 2011
Selasa, 09 Agustus 2011
Dinosaurus
Liat kuis siapa paling berani bareng si konyil amar,,,
pas babak bonus ada pertanyaan, kirakira bunyinya gini
"karena ketamakan dan ketidak pedulian manusia, Dinosaurus punah "
...
aku jawab salah...
kenapa?
yuk, siapa tahu
Kenapa Dinosaurus punah?
ceritanya begini,
Pada waktu akan terjadi banjir besar, semua ingin naik ke bahtera nabi Nuh, termasuk para binatang. Pada saat itu, diadakan samacam sayembara di kalangan para binatang.
Barang siapa yang bisa membuat lelucon dan membuat para binatang yang lain tertawa tanpa terkecuali, boleh naik ke bahtera. Sementara yang tidak, mohon maaf...harus tinggal.
Si gajah mulai yang pertama. Ia bercerita di depan bangsa binatang, dan...
Ia berhasil membuat semua binatang tertawa.
hem,, Tiket bahtera sudah didapat.
Gantian, giliran dinosaurus yang manggung.
Ia bercerita, membuat lelucon. Tetapi sayang, si babi nggak ketawa...
dan, bangsa dinosaurus pun harus tinggal dan hanyut oleh banjir besar.
Lalu Harimau bercerita, dan semua pun tertawa.
ada yang iseng tanya pada si babi.
"bi,, kenapa kau tertawa?"
babi jawab,
"dengar cerita dinosaurus tadi"
,,
hayo, yang telat ketawa berarti ... ?
cerita itu aku dapat dari Dr. Sutanto, DEA dengan segala improvisasi.
pesan yang disampaikan:
telmi (telat mikir) itu berbahaya. Merugikan, tak hanya bagi diri sendiri, bahkan sebuah bangsa.
hehem...
so, be s.m.a.r.t ...!
...
jawaban soal itu memang "salah"
karena dinosaurus hidup 65.000 tahun yang lalu sedangkan manusia exist 3.000(angka tepatnya lupa) tahun yang lalu.
Jadi, manusia dan dinosaurus tak pernah ketemu.
pas babak bonus ada pertanyaan, kirakira bunyinya gini
"karena ketamakan dan ketidak pedulian manusia, Dinosaurus punah "
...
aku jawab salah...
kenapa?
yuk, siapa tahu
Kenapa Dinosaurus punah?
ceritanya begini,
Pada waktu akan terjadi banjir besar, semua ingin naik ke bahtera nabi Nuh, termasuk para binatang. Pada saat itu, diadakan samacam sayembara di kalangan para binatang.
Barang siapa yang bisa membuat lelucon dan membuat para binatang yang lain tertawa tanpa terkecuali, boleh naik ke bahtera. Sementara yang tidak, mohon maaf...harus tinggal.
Si gajah mulai yang pertama. Ia bercerita di depan bangsa binatang, dan...
Ia berhasil membuat semua binatang tertawa.
hem,, Tiket bahtera sudah didapat.
Gantian, giliran dinosaurus yang manggung.
Ia bercerita, membuat lelucon. Tetapi sayang, si babi nggak ketawa...
dan, bangsa dinosaurus pun harus tinggal dan hanyut oleh banjir besar.
Lalu Harimau bercerita, dan semua pun tertawa.
ada yang iseng tanya pada si babi.
"bi,, kenapa kau tertawa?"
babi jawab,
"dengar cerita dinosaurus tadi"
,,
hayo, yang telat ketawa berarti ... ?
cerita itu aku dapat dari Dr. Sutanto, DEA dengan segala improvisasi.
pesan yang disampaikan:
telmi (telat mikir) itu berbahaya. Merugikan, tak hanya bagi diri sendiri, bahkan sebuah bangsa.
hehem...
so, be s.m.a.r.t ...!
...
jawaban soal itu memang "salah"
karena dinosaurus hidup 65.000 tahun yang lalu sedangkan manusia exist 3.000(angka tepatnya lupa) tahun yang lalu.
Jadi, manusia dan dinosaurus tak pernah ketemu.
art of influence...
malam ini g ikut kajian, ada si konyil amar di rumah yang nggak mau ditinggal...
Mmm,,, nggak mau nyari kambing hitam sih,, tapi sebenarnya ada kuis siapa paling berani(KSPB) dan jakarta lawyers club (JLC) yang bikin aku pilih stay at home...
Ditambah super trap yang menyajikan drifting untuk mengerjai sasarannya.Tapi ya harus rebutan remote. Hem,, (skali lagi)bener-bener bulan jihad...
(drifting itu salah satu aksi dalam slalom, free style-nya nyetir mobil.Liat film Tokyo Drift untuk liat drifting2 keren)
mm,,biar tetep dapat makna, aku akan berbagi yang aku dapatkan dari program-program itu...
Aku mulai dari, ....
art of influence, itu judul sebuah buku, mungkin tepatnya beberapa buah buku karena nggak cuma satu buku yang bahas tentang seni mempengaruhi orang lain itu.
Aku liat buku itu pertama kali di perpustakaan ketika dolan ke sebuah Sekolah dasar(SD) di Surabaya sekitar dua tahun yang lalu. Tapi aku nggak ingin bahas itu karena belum sempat baca dalam-dalam buku itu.
ketika remote aku arahkan ke acara Helmi Yahya (KSPB) tentu si konyil Amar protes, karena pasti itu bukan program yang menarik bagi anak yang belum genap berumur 4 tahun itu. Tapi,,, tentu saja.. bagaimana cara mempengaruhinya....
Anak itu kan belum tahu mana yang baik, mana yang sebenarnya menarik. Tergantung kita sebagai orang yang lebih dewasa mempengaruhinya...
dan disinilah kita berperan..
Aku bilang,
"Eh, Kak. Ini acara bagus" (panggilannya kakak)
"heh?", jawabnya. Kelihatan nggak begitu paham dan ingin tahu lebih.
...
Memang aku sering menggunakan kata-kata yang biasa digunakan oleh orang dewasa untuk bekomunukasi dengan keponakan-keponakanku.
Bagi mereka, mungkin itu sesuatu yang tidak mudah untuk dimengerti. Tapi tujuan ku adalah membuat mereka terbiasa dengan bahasa-bahasa itu.
Bukankah 'mengerti" itu akan didapatkan dengan sendirinya ketika sesuatu itu sering diucapkan, sering didengar dan menjadi hal yang familiar, tidak asing di telinga?
Misalnya, aku bilang "manuver" ketika bercerita menjelaskan video tentang pesawat tempur.
Aku gunakan "mengintai" ketika sedang bermain perang-perangan dengan mereka.
Aku kenalkan kata "internet", "chatting", "download" pada mereka.
Aku sengaja tidak menyampaikan kata-kata itu dalam bahasa yang lebih sederhana. Aku menggunakan kata asli dan mereka akan ter-jelas-kan dengan melihat apa yang aku lakukan untuk merepresentasikan kata tersebut. Jadi tidak perlu banyak kata untuk menjelaskan. Walaupun, kadang-kadang menjelaskan memang perlu.
Akhirnya, mereka dengan sendirinya akan menggunakan kata itu tanpa sengaja, karena kata itu sudah ada dalam kumpulan kosa kata mereka.
Contoh: "Video Thomasnya po sudah di download, tan?".
"Tante kog suka chatting i kenapa?",
"Pesawate bermanuver, tan!".
Entah seberapa dalam mereka memaknai kata itu, setidaknya mereka telah bisa menggunakannya.
Ya, cukup lumayan untuk anak usia balita.
...
"Ini acara bagus. kalo liat ini bisa bikin orang jadi pinter", aku jelaskan.
"hem?", komentarnya. Terlihat lebih antusias, ingin tahu lebih dalam.
lalu aku jelaskan lagi, "Ini to, nanti ada pertanyaan. Yang bisa cepet-cepetan mencet. teeet gitu. trus jawab."
"kalo dah jawab?" dah mulai kena dia.
"kalo dah jawab nanti dapat nilai 100 kalo benar", aku jawab.
"nilainya nanti buat apa?", makin kenalah dia.
"nilainya yo dikumpulkan, yang paling bagus nilainya nanti dapat uang", aku jawab.
"uang apa?", dia tanya.
"ya dapat uang. uangnya 25 juta", aku bilang.
tentu saja sihir itu takkan berhasil tanpa intonasi dan gerture yang juga menyihir.
Ingat? dalam komunikasi itu kata-kata berperan hanya 7%, sementara 38% adalah suara termasuk intonasi, dan 55%-nya adalah gesture, menyangkut wajah dan gerak tubuh.
Bayangkan saja bagaimana caraku mempengaruhi anak berusia tiga tahun untuk merelakan mata dan perhatiannya pada kuis untuk orang dewasa itu.
Ya, ikut hanyut dalam acara itu. Ikut jawab. Aku pura-pura ikut pencet, perut dia yang aku pencet, dan dia suka. lalu ikut teriak-teriak, tepuk tangan kalo jawabanku benar. Ajak dia toss untuk perayaan. ..
Dan itu berhasil...hehem...
kenapa aku bilang berhasil, karena esok paginya, yaitu pagi tadi, dia bahas tentang kuis itu tanpa aku yang pancing untuk membahas dulu. Nggak cuma sekali dan nggak hanya sekejap dia bahas..
"... tadi malam itu, kuis yang bikin pinter itu ya ,tan.."
...yeach!
Pada dasarnya kita nggak perlu teori-teori rumit untuk mempengaruhi,, atau untuk lakukan apapun,
...dan aku hanya lakukan dengan caraku..
(untuk JLC, liat posting selanjutnya, Insya Alloh)
-Rabu, 10 Agustus 2011-
Mmm,,, nggak mau nyari kambing hitam sih,, tapi sebenarnya ada kuis siapa paling berani(KSPB) dan jakarta lawyers club (JLC) yang bikin aku pilih stay at home...
Ditambah super trap yang menyajikan drifting untuk mengerjai sasarannya.Tapi ya harus rebutan remote. Hem,, (skali lagi)bener-bener bulan jihad...
(drifting itu salah satu aksi dalam slalom, free style-nya nyetir mobil.Liat film Tokyo Drift untuk liat drifting2 keren)
mm,,biar tetep dapat makna, aku akan berbagi yang aku dapatkan dari program-program itu...
Aku mulai dari, ....
art of influence, itu judul sebuah buku, mungkin tepatnya beberapa buah buku karena nggak cuma satu buku yang bahas tentang seni mempengaruhi orang lain itu.
Aku liat buku itu pertama kali di perpustakaan ketika dolan ke sebuah Sekolah dasar(SD) di Surabaya sekitar dua tahun yang lalu. Tapi aku nggak ingin bahas itu karena belum sempat baca dalam-dalam buku itu.
ketika remote aku arahkan ke acara Helmi Yahya (KSPB) tentu si konyil Amar protes, karena pasti itu bukan program yang menarik bagi anak yang belum genap berumur 4 tahun itu. Tapi,,, tentu saja.. bagaimana cara mempengaruhinya....
Anak itu kan belum tahu mana yang baik, mana yang sebenarnya menarik. Tergantung kita sebagai orang yang lebih dewasa mempengaruhinya...
dan disinilah kita berperan..
Aku bilang,
"Eh, Kak. Ini acara bagus" (panggilannya kakak)
"heh?", jawabnya. Kelihatan nggak begitu paham dan ingin tahu lebih.
...
Memang aku sering menggunakan kata-kata yang biasa digunakan oleh orang dewasa untuk bekomunukasi dengan keponakan-keponakanku.
Bagi mereka, mungkin itu sesuatu yang tidak mudah untuk dimengerti. Tapi tujuan ku adalah membuat mereka terbiasa dengan bahasa-bahasa itu.
Bukankah 'mengerti" itu akan didapatkan dengan sendirinya ketika sesuatu itu sering diucapkan, sering didengar dan menjadi hal yang familiar, tidak asing di telinga?
Misalnya, aku bilang "manuver" ketika bercerita menjelaskan video tentang pesawat tempur.
Aku gunakan "mengintai" ketika sedang bermain perang-perangan dengan mereka.
Aku kenalkan kata "internet", "chatting", "download" pada mereka.
Aku sengaja tidak menyampaikan kata-kata itu dalam bahasa yang lebih sederhana. Aku menggunakan kata asli dan mereka akan ter-jelas-kan dengan melihat apa yang aku lakukan untuk merepresentasikan kata tersebut. Jadi tidak perlu banyak kata untuk menjelaskan. Walaupun, kadang-kadang menjelaskan memang perlu.
Akhirnya, mereka dengan sendirinya akan menggunakan kata itu tanpa sengaja, karena kata itu sudah ada dalam kumpulan kosa kata mereka.
Contoh: "Video Thomasnya po sudah di download, tan?".
"Tante kog suka chatting i kenapa?",
"Pesawate bermanuver, tan!".
Entah seberapa dalam mereka memaknai kata itu, setidaknya mereka telah bisa menggunakannya.
Ya, cukup lumayan untuk anak usia balita.
...
"Ini acara bagus. kalo liat ini bisa bikin orang jadi pinter", aku jelaskan.
"hem?", komentarnya. Terlihat lebih antusias, ingin tahu lebih dalam.
lalu aku jelaskan lagi, "Ini to, nanti ada pertanyaan. Yang bisa cepet-cepetan mencet. teeet gitu. trus jawab."
"kalo dah jawab?" dah mulai kena dia.
"kalo dah jawab nanti dapat nilai 100 kalo benar", aku jawab.
"nilainya nanti buat apa?", makin kenalah dia.
"nilainya yo dikumpulkan, yang paling bagus nilainya nanti dapat uang", aku jawab.
"uang apa?", dia tanya.
"ya dapat uang. uangnya 25 juta", aku bilang.
tentu saja sihir itu takkan berhasil tanpa intonasi dan gerture yang juga menyihir.
Ingat? dalam komunikasi itu kata-kata berperan hanya 7%, sementara 38% adalah suara termasuk intonasi, dan 55%-nya adalah gesture, menyangkut wajah dan gerak tubuh.
Bayangkan saja bagaimana caraku mempengaruhi anak berusia tiga tahun untuk merelakan mata dan perhatiannya pada kuis untuk orang dewasa itu.
Ya, ikut hanyut dalam acara itu. Ikut jawab. Aku pura-pura ikut pencet, perut dia yang aku pencet, dan dia suka. lalu ikut teriak-teriak, tepuk tangan kalo jawabanku benar. Ajak dia toss untuk perayaan. ..
Dan itu berhasil...hehem...
kenapa aku bilang berhasil, karena esok paginya, yaitu pagi tadi, dia bahas tentang kuis itu tanpa aku yang pancing untuk membahas dulu. Nggak cuma sekali dan nggak hanya sekejap dia bahas..
"... tadi malam itu, kuis yang bikin pinter itu ya ,tan.."
...yeach!
Pada dasarnya kita nggak perlu teori-teori rumit untuk mempengaruhi,, atau untuk lakukan apapun,
...dan aku hanya lakukan dengan caraku..
(untuk JLC, liat posting selanjutnya, Insya Alloh)
-Rabu, 10 Agustus 2011-
Senin, 08 Agustus 2011
Majority
Second night of paket ramadhan,,
kajian lagi,,aku segera disconnect my lovely aha untuk segera menuju pencerahan,
bismillah..
Semoga malaikat dengan sayapnya terbang membersamaiku...
...
Duduk paling belakang,
Di sudut yang paling aku benci, pinggir...
hampa sebelah kiri, stranger sebelah kanan.
Not really stranger sih, tapi kira2 sudah sekian tahun aku tak saling lempar kata dengan anak ini.
Kata yang lain dia 'beda'.
Hem...Nggak ada pilihan lain, resiko buat yang datang akhir, tempati tempat yang tersisa.
Oh my God, bener bener bulan jihad, nggak siang nggak malam, waktuMu adalah ujian menjaga hati...
Tujuh menit berlalu, belum juga aku sapa dia. Dan dia cuma berani melirik, hehem..
G berani pasti, secara aku adalah yang paling senior diantara yang lain (hadiroh). Ya, senior.
Aku nggak bilang tua, walopun tahun lahirku lebih kecil dari mereka, aku juga nggak bilang dewasa karena,
mmm...
Aku ingat sebuah definisi menarik tentang dewasa,
dari Naomi Susan, seorang penulis. Aku dapat dari Kick Andy episode cara gila menulis buku. Begini kutipannya:
Majority is how the way you can control your self
(kedewasaan adalah bagaimana anda mengendalikan diri)
pas di bulan pengendalian diri, sudahkah kita melangkah d.e.w.a.s.a ...
Ups, ustadz sudah menempatkan diri ditempat yang paling banyak pahalanya, aku simak beliau dulu, ustadz yang paling
aku suka dari desa tercinta.
Insya alloh aku akan bagi ilmunya,,
semoga...
kajian lagi,,aku segera disconnect my lovely aha untuk segera menuju pencerahan,
bismillah..
Semoga malaikat dengan sayapnya terbang membersamaiku...
...
Duduk paling belakang,
Di sudut yang paling aku benci, pinggir...
hampa sebelah kiri, stranger sebelah kanan.
Not really stranger sih, tapi kira2 sudah sekian tahun aku tak saling lempar kata dengan anak ini.
Kata yang lain dia 'beda'.
Hem...Nggak ada pilihan lain, resiko buat yang datang akhir, tempati tempat yang tersisa.
Oh my God, bener bener bulan jihad, nggak siang nggak malam, waktuMu adalah ujian menjaga hati...
Tujuh menit berlalu, belum juga aku sapa dia. Dan dia cuma berani melirik, hehem..
G berani pasti, secara aku adalah yang paling senior diantara yang lain (hadiroh). Ya, senior.
Aku nggak bilang tua, walopun tahun lahirku lebih kecil dari mereka, aku juga nggak bilang dewasa karena,
mmm...
Aku ingat sebuah definisi menarik tentang dewasa,
dari Naomi Susan, seorang penulis. Aku dapat dari Kick Andy episode cara gila menulis buku. Begini kutipannya:
Majority is how the way you can control your self
(kedewasaan adalah bagaimana anda mengendalikan diri)
pas di bulan pengendalian diri, sudahkah kita melangkah d.e.w.a.s.a ...
Ups, ustadz sudah menempatkan diri ditempat yang paling banyak pahalanya, aku simak beliau dulu, ustadz yang paling
aku suka dari desa tercinta.
Insya alloh aku akan bagi ilmunya,,
semoga...
Jumat, 05 Agustus 2011
Padang Hijau
ketika mata tak lagi berhak atas penglihatanmya
angin tak berhak atas kelembutannya
subuh tak lagi mampu menjanjikan kenyataan atas mimpi-mimpi yang tersulam....
ku katakan pada bumi
angin tak berhak atas kelembutannya
subuh tak lagi mampu menjanjikan kenyataan atas mimpi-mimpi yang tersulam....
ku katakan pada bumi
wahai bumi,
wajahmu bisa saja hancur oleh luapan tsunami
atau muntahan merapi
tapi hatiku tak kan pernah ragu untuk merindu
hamparan padang hijau membukakan kedua tangannya
tapi hatiku tak kan pernah ragu untuk merindu
hamparan padang hijau membukakan kedua tangannya
untuk menyambutku...
sang penghuni surga...
teruntuk dirimu
sang penghuni surga,,,
yang sejati itu tak pernah mati...
yang selalu dijaga tak kan pernah terlupa..
tubuh tubuh yang harus terlewati
menjadi gelap malam yang selalu makutkan
mimpi indah itu menjadi kekuatan
dan detik detik angin damai meneguhkan ketegaran
aku sampaikan salam kepada mu
dari bawah langit
sang penghuni surga,,,
yang sejati itu tak pernah mati...
yang selalu dijaga tak kan pernah terlupa..
tubuh tubuh yang harus terlewati
menjadi gelap malam yang selalu makutkan
mimpi indah itu menjadi kekuatan
dan detik detik angin damai meneguhkan ketegaran
aku sampaikan salam kepada mu
dari bawah langit
Balaslah Keburukan dengan Kebaikan
eh..
aku teringat, ketika aku mengadu di'nakali' mas Rais ato siapapun kepada umi ,dulu.
Beliau SELALU jawab,
"Yo ben, sesuk mas Rais tak tukokne es thong-thong ben ra nakal meneh"
(nggak papa, besok mas Rais tak belikan es krim biar nggak nakal lagi).
Lalu aku selalu menjawab,
"aaa..." nggak terima.
Baru aku sadari ketika dewasa,
bahwa dengan itu Umi ingin mengajarkan untuk tidak selalu melihat yang terjadi pada
diri kita itu buruk, seburuk yang kita bayangkan,
dan belajarlah untuk tidak berprasangka buruk pada orang lain.
Nggak semua yang kita bilang 'nakal' itu memang nakal.
Dan yang paling penting
"BALASLAH KEBURUKAN DENGAN KEBAIKAN"
(dengan es krim,he)
semoga bermanfaat...
aku teringat, ketika aku mengadu di'nakali' mas Rais ato siapapun kepada umi ,dulu.
Beliau SELALU jawab,
"Yo ben, sesuk mas Rais tak tukokne es thong-thong ben ra nakal meneh"
(nggak papa, besok mas Rais tak belikan es krim biar nggak nakal lagi).
Lalu aku selalu menjawab,
"aaa..." nggak terima.
Baru aku sadari ketika dewasa,
bahwa dengan itu Umi ingin mengajarkan untuk tidak selalu melihat yang terjadi pada
diri kita itu buruk, seburuk yang kita bayangkan,
dan belajarlah untuk tidak berprasangka buruk pada orang lain.
Nggak semua yang kita bilang 'nakal' itu memang nakal.
Dan yang paling penting
"BALASLAH KEBURUKAN DENGAN KEBAIKAN"
(dengan es krim,he)
semoga bermanfaat...
Lolipop....
Hari ini mengantar umi ke pasar kota beli peralatan rumah tangga.
Sebentar. Karena kami memang g suka basa-basi. Kalo beli sesuatu, bilang, kalo bisa ditawar kalo g bisa ya udah langsung bayar.
Di waktu kunjungan kami di toko yang sebentar itu, aku menyaksikan sebuah frame yang menarik, menurutku.
Aku mengamati sekeliling dari awal kami hinggap di toko itu. Majikan, pelayan, pembeli... hehem, kata mbak Darni, salah satu teman, mengamati sekeliling itu merupakan hobiku ketika aku sampai di suatu tempat. Trus, dari mbak Darni juga, aku itu diam, tetapi mataku mengatakan bahwa otakku sedang memikirkan buanyak hal. pikiran yang menerawang jauh, begitu kira-kira. Lebih lanjut, senyumku katanya menimbulkan banyak pertanyaan. hehe, kaya Monalisa.
Eh, sebentar. Tau nggak, kenapa lukisan Monalisa menjadi fenomenal. Itu karena ada 'rayuan' di dalamnya. Kalo menurut "in persuit of elegace" sebuah buku karangan Matthew E May, Seduction, atau 'rayuan' adalah salah satu hal untuk membuat sesuatu itu menjadi elegan. Ada empat hal dalam buku itu. Mungkin suatu saat akan aku bagi untuk pembaca, someday, semoga.
(Eh, maksudku, bukan berarti senyumku mengandung rayuan lho ya...)
Seduction dalam buku itu dimaksudkan ketertarikan manusia terhadap misteri, keinginan tahuan manusia terhadap puzzle yang tidak lengkap. Dan keinginan manusia untuk berusaha melengkapi misteri tersebut.
Kita cukupkan dulu elegannya.
Seorang anak kecil, mungkin adalah anak sang majikan (karena aku nggak pernah tanya), datang mendekat ibunya kemudian menyodorkan sebuah lolipop yang masih terbungkus dengan maksud minta tolong untuk dibukakan plastik pembungkus itu. Mendapati lolipopnya siap diemut, ia pun lari ke lorong pasar, entah kemana tujuannya.
Dan beberapa saat kemudian...
Ia datang dalam keadaan menangis, duduk di lantai, dan teriak-teriak. Lolipopnya jatuh di suatu tempat yang aku nggak tau itu.Hal itu pun menarik perhatian beberapa orang, termasuk aku. Kalo mereka, ibuknya, pelayan, dan pembeli tertarik untuk bagaimana menemukan solusi untuk membuatnya berhenti menangis dan berteriak-teriak, aku lebih tertarik untuk mengamati apa yang akan mereka lakukan untuk menangani satu anak kecil yang mungkin baru berusia 4 atau 5 tahun itu.
sang pelayang yang setia bertanya, "Kenapa itu, bu?"
ibunya menjawab,"Permennya jatuh?"
Sang ibu yang kelihatan nggak suka banyak berkata-kata, menarik sang anak untuk menggendongnya walau sang anak meronta-ronta menolak.
"jatuh dimana?", sang pelayan tanya.
"di sana, tempat dolan dia tadi" ibunya menjawab
seorang pembeli tertarik untuk ikut dalam percakapan. "Mbok dibelikan lagi. Kasihan. Harganya po mahal to?"
"tujuh ribu" sang ibu menjawab
"Yo mbok dibelikan to, bu. Belinya dimana to? " lanjut sang pembeli
"Di solo" sang ibu jawab
"Lha yo adoh men" (jauh amat), komentar sang pembeli
"diambil aja, trus dicuci" sang pelayan mencoba menawarkan solusi
kemudian, seseorang datang, mungkin tante si anak kecil tadi, ternyata ia yang menyertai 'pengembaraan' anak itu sampai terjadi 'tragedi' jatuhnya lolipop.
Ia pun di sidang.
"Lha kog bisa jatuh ki piye?" tanya sang pelayan
"mbok kapakne mau?" (kamu apakan?), lanjutnya
"Aku nggak ngapa-ngapain kog, wong permennya jatuh sendiri, aku nggak nyenggol" jawabnya membela diri.
Ibuknya terus menarik anaknya yang makin teriak-teriak untuk duduk di atas kursi. Sang anak tetap meronta. Lalu, dipaksalah sang anak, diangkat disembunyikan di balik kasir, mungkin biar nggak dilihat orang karena memalukan barang kali. Ibu muda, yang mungkin itu adalah anak pertamanya, melakukan itu tanpa banyak kata.
Lalu, kami pun harus segera pergi karena transaksi jual beli sudah selesai.
Saat mengambil beberapa langkah meninggalkan tempat itu, masih terdengar sang pelayan dan pembeli tadi masih membahas solusi untuk anak itu.
sang pelayan masih tertarik dengan teori mengambil dan mencuci-nya, sedangkan pembeli masih kekeh dengan membelikannya lagi, tapi sadar bahwa tempatnya tidak dekat.
Dalam perjalanan menuju jupiter biru, aku bilang sama umi.
"Masalahnya bukan pada lolipopnya. Tetapi, bahwa anak itu perlu diajari untuk menerima kenyataan"
memang kadang-kadang aku suka berbicara sama umi dengan nada kayak 'pembicara', hehe..
"wong jenenge wong tuwo. Sing penting piye carane anake meneng" (namanya juga orang tua, yang penting bagaimana membuat anaknya diam)", komentar umi.
Sebuah pelajaran hari ini. Dan aku ingin berbagi.
Banyak pertanyaan yang kebanyakan adalah pernyataan nggak terima-ku melihat Kebanyakan orang tua menghadapi anaknya.
(semoga kalimatnya mudah dipahami. Karena, Aku kalo cerita, aku ketik aja, nggak suka edit-editan walo aku tahu banyak yang salah, biar original, hehe..)
ketika anak jatuh, kenapa lebih suka menyalahkan kodok dari pada bilang, "ya, berarti besok kalo lari-lari adek hati-hati ya!"
bukankah itu membuatnya belajar mencari kambing hitam?
bekankan mengajaknya belajar untuk belajar dari kesalahan dan memperbaiki diri itu lebih baik...
ketika anak mengadu di'nakali' kakaknya, kenapa lebih suka menjanjikan untuk membalaskan dendamnya dari pada bilang, "Nggak ada yang nakal, kakak itu nggak nakal, kakak itu cuma pengen disayang, coba kakak disayang dulu"
bukankah itu membuatnya belajar balas dendam dan tak mau disalahkan?
bukankah mengajaknya belajar melihat sesuatu dengan pandangan yang positif itu lebih baik...
ketika anak menangis karena kehilangan sesuatu, kenapa lebih suka berusaha mencarikan gantinya dengan kerasnya dari pada membuatnya belajar mengerti dan memahami arti kehilangan dan kekecewaan.
bukankah itu membuatnya belajar untuk tidak menerima kenyataan dan menyalahkan keadaan?
bukankan mengajaknya belajar mengerti dan memahami arti kehilangan dan kekecewaan itu lebih baik...
ketika anak merengek meminta sesuatu, lebih suka mencari cara bagaimana supaya keinginan itu hilang ketika tidak bisa memenuhi, ato mencari cara bagaimana memenuhinya walo keadaan orang tua sedang tidak mudah untuk memenuhinya
dan banyak hal lain...
bukankan itu membuatnya memupuskan harapan, dan memaksakan kehendak serta acuh terhadap keadaan?
bukankah mengajaknya belajar memahami dunia yang tak selalu seindah keinginannya
mengajaknya belajar peka terhadap keadaan sekitarnya adalah lebih baik...
Anak memang harta yang sangat berharga. Membahagiakannya adalah wajib bagi orang tua. Namun, hal itu tidak serta merta menghalalkan untuk mengajarkan hal yang justru merugikan masa depannya.
Mari kita sadari bahwa yang kita lakukan pada mereka sekarang (saat mereka masih kecil serta dalam perjalanan hidupnya) adalah referensi bagi segala tindakan mereka di masa yang akan datang. Anak kecil bukan makhluk yang dengan mudah bisa dibohongi, bukan makhluk yang dianggap kecil segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Mereka adalah pembelajar sejati, sungguh urusan dengan mereka adalah urusan yang besar.
So, jangan main-main dengan anak kecil ...
hem..
Yuk, belajar menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kita.
cukup dengan satu alasan, karena kita SAYANG pada mereka.
Semoga beramanfaat...
(jum'at/5Agustus2011)
Sebentar. Karena kami memang g suka basa-basi. Kalo beli sesuatu, bilang, kalo bisa ditawar kalo g bisa ya udah langsung bayar.
Di waktu kunjungan kami di toko yang sebentar itu, aku menyaksikan sebuah frame yang menarik, menurutku.
Aku mengamati sekeliling dari awal kami hinggap di toko itu. Majikan, pelayan, pembeli... hehem, kata mbak Darni, salah satu teman, mengamati sekeliling itu merupakan hobiku ketika aku sampai di suatu tempat. Trus, dari mbak Darni juga, aku itu diam, tetapi mataku mengatakan bahwa otakku sedang memikirkan buanyak hal. pikiran yang menerawang jauh, begitu kira-kira. Lebih lanjut, senyumku katanya menimbulkan banyak pertanyaan. hehe, kaya Monalisa.
Eh, sebentar. Tau nggak, kenapa lukisan Monalisa menjadi fenomenal. Itu karena ada 'rayuan' di dalamnya. Kalo menurut "in persuit of elegace" sebuah buku karangan Matthew E May, Seduction, atau 'rayuan' adalah salah satu hal untuk membuat sesuatu itu menjadi elegan. Ada empat hal dalam buku itu. Mungkin suatu saat akan aku bagi untuk pembaca, someday, semoga.
(Eh, maksudku, bukan berarti senyumku mengandung rayuan lho ya...)
Seduction dalam buku itu dimaksudkan ketertarikan manusia terhadap misteri, keinginan tahuan manusia terhadap puzzle yang tidak lengkap. Dan keinginan manusia untuk berusaha melengkapi misteri tersebut.
Kita cukupkan dulu elegannya.
Seorang anak kecil, mungkin adalah anak sang majikan (karena aku nggak pernah tanya), datang mendekat ibunya kemudian menyodorkan sebuah lolipop yang masih terbungkus dengan maksud minta tolong untuk dibukakan plastik pembungkus itu. Mendapati lolipopnya siap diemut, ia pun lari ke lorong pasar, entah kemana tujuannya.
Dan beberapa saat kemudian...
Ia datang dalam keadaan menangis, duduk di lantai, dan teriak-teriak. Lolipopnya jatuh di suatu tempat yang aku nggak tau itu.Hal itu pun menarik perhatian beberapa orang, termasuk aku. Kalo mereka, ibuknya, pelayan, dan pembeli tertarik untuk bagaimana menemukan solusi untuk membuatnya berhenti menangis dan berteriak-teriak, aku lebih tertarik untuk mengamati apa yang akan mereka lakukan untuk menangani satu anak kecil yang mungkin baru berusia 4 atau 5 tahun itu.
sang pelayang yang setia bertanya, "Kenapa itu, bu?"
ibunya menjawab,"Permennya jatuh?"
Sang ibu yang kelihatan nggak suka banyak berkata-kata, menarik sang anak untuk menggendongnya walau sang anak meronta-ronta menolak.
"jatuh dimana?", sang pelayan tanya.
"di sana, tempat dolan dia tadi" ibunya menjawab
seorang pembeli tertarik untuk ikut dalam percakapan. "Mbok dibelikan lagi. Kasihan. Harganya po mahal to?"
"tujuh ribu" sang ibu menjawab
"Yo mbok dibelikan to, bu. Belinya dimana to? " lanjut sang pembeli
"Di solo" sang ibu jawab
"Lha yo adoh men" (jauh amat), komentar sang pembeli
"diambil aja, trus dicuci" sang pelayan mencoba menawarkan solusi
kemudian, seseorang datang, mungkin tante si anak kecil tadi, ternyata ia yang menyertai 'pengembaraan' anak itu sampai terjadi 'tragedi' jatuhnya lolipop.
Ia pun di sidang.
"Lha kog bisa jatuh ki piye?" tanya sang pelayan
"mbok kapakne mau?" (kamu apakan?), lanjutnya
"Aku nggak ngapa-ngapain kog, wong permennya jatuh sendiri, aku nggak nyenggol" jawabnya membela diri.
Ibuknya terus menarik anaknya yang makin teriak-teriak untuk duduk di atas kursi. Sang anak tetap meronta. Lalu, dipaksalah sang anak, diangkat disembunyikan di balik kasir, mungkin biar nggak dilihat orang karena memalukan barang kali. Ibu muda, yang mungkin itu adalah anak pertamanya, melakukan itu tanpa banyak kata.
Lalu, kami pun harus segera pergi karena transaksi jual beli sudah selesai.
Saat mengambil beberapa langkah meninggalkan tempat itu, masih terdengar sang pelayan dan pembeli tadi masih membahas solusi untuk anak itu.
sang pelayan masih tertarik dengan teori mengambil dan mencuci-nya, sedangkan pembeli masih kekeh dengan membelikannya lagi, tapi sadar bahwa tempatnya tidak dekat.
Dalam perjalanan menuju jupiter biru, aku bilang sama umi.
"Masalahnya bukan pada lolipopnya. Tetapi, bahwa anak itu perlu diajari untuk menerima kenyataan"
memang kadang-kadang aku suka berbicara sama umi dengan nada kayak 'pembicara', hehe..
"wong jenenge wong tuwo. Sing penting piye carane anake meneng" (namanya juga orang tua, yang penting bagaimana membuat anaknya diam)", komentar umi.
Sebuah pelajaran hari ini. Dan aku ingin berbagi.
Banyak pertanyaan yang kebanyakan adalah pernyataan nggak terima-ku melihat Kebanyakan orang tua menghadapi anaknya.
(semoga kalimatnya mudah dipahami. Karena, Aku kalo cerita, aku ketik aja, nggak suka edit-editan walo aku tahu banyak yang salah, biar original, hehe..)
ketika anak jatuh, kenapa lebih suka menyalahkan kodok dari pada bilang, "ya, berarti besok kalo lari-lari adek hati-hati ya!"
bukankah itu membuatnya belajar mencari kambing hitam?
bekankan mengajaknya belajar untuk belajar dari kesalahan dan memperbaiki diri itu lebih baik...
ketika anak mengadu di'nakali' kakaknya, kenapa lebih suka menjanjikan untuk membalaskan dendamnya dari pada bilang, "Nggak ada yang nakal, kakak itu nggak nakal, kakak itu cuma pengen disayang, coba kakak disayang dulu"
bukankah itu membuatnya belajar balas dendam dan tak mau disalahkan?
bukankah mengajaknya belajar melihat sesuatu dengan pandangan yang positif itu lebih baik...
ketika anak menangis karena kehilangan sesuatu, kenapa lebih suka berusaha mencarikan gantinya dengan kerasnya dari pada membuatnya belajar mengerti dan memahami arti kehilangan dan kekecewaan.
bukankah itu membuatnya belajar untuk tidak menerima kenyataan dan menyalahkan keadaan?
bukankan mengajaknya belajar mengerti dan memahami arti kehilangan dan kekecewaan itu lebih baik...
ketika anak merengek meminta sesuatu, lebih suka mencari cara bagaimana supaya keinginan itu hilang ketika tidak bisa memenuhi, ato mencari cara bagaimana memenuhinya walo keadaan orang tua sedang tidak mudah untuk memenuhinya
dan banyak hal lain...
bukankan itu membuatnya memupuskan harapan, dan memaksakan kehendak serta acuh terhadap keadaan?
bukankah mengajaknya belajar memahami dunia yang tak selalu seindah keinginannya
mengajaknya belajar peka terhadap keadaan sekitarnya adalah lebih baik...
Anak memang harta yang sangat berharga. Membahagiakannya adalah wajib bagi orang tua. Namun, hal itu tidak serta merta menghalalkan untuk mengajarkan hal yang justru merugikan masa depannya.
Mari kita sadari bahwa yang kita lakukan pada mereka sekarang (saat mereka masih kecil serta dalam perjalanan hidupnya) adalah referensi bagi segala tindakan mereka di masa yang akan datang. Anak kecil bukan makhluk yang dengan mudah bisa dibohongi, bukan makhluk yang dianggap kecil segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Mereka adalah pembelajar sejati, sungguh urusan dengan mereka adalah urusan yang besar.
So, jangan main-main dengan anak kecil ...
hem..
Yuk, belajar menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kita.
cukup dengan satu alasan, karena kita SAYANG pada mereka.
Semoga beramanfaat...
(jum'at/5Agustus2011)
Selasa, 02 Agustus 2011
bahagia itu sederhana
bahagia itu sederhana
ketika sederhana dalam hidup
dan memaknai hidup dengan sederhana
sesederhana tawa bayi ketika mendengar 'cilukba' ibunya
sesederhana teriakan 'yes!' anak-anak sekolah mendengar gurunya mengumumkan tidak jadi ulangan
sesederhana senyuman penjual somay mendengar panggilan 'belii!'
sederhanalah dalam berbahagia
berbahagialah dengan kesederhanaan
selamat berbahagia...
ketika sederhana dalam hidup
dan memaknai hidup dengan sederhana
sesederhana tawa bayi ketika mendengar 'cilukba' ibunya
sesederhana teriakan 'yes!' anak-anak sekolah mendengar gurunya mengumumkan tidak jadi ulangan
sesederhana senyuman penjual somay mendengar panggilan 'belii!'
sederhanalah dalam berbahagia
berbahagialah dengan kesederhanaan
selamat berbahagia...
mentari
menjadi mentari dalam keluarga
pagi ini...
menyambut udara pagi yang telah berbaris di balik jendela
menyambut udara pagi yang telah berbaris di balik jendela
menunggu dipersilakan masuk menyapa
di balik jendela
ku buka tirai
indahnya...
wajah alam di atas kanvas kehidupan
indahnya...
wajah alam di atas kanvas kehidupan
lalu jendela,
begitu segar
udara pagi membangunkan sel-sel
dari sisa-sisa kelelahannya
kemarin...
dari sisa-sisa kelelahannya
kemarin...
indahnya...
kisah damai di dalam buku sejarah
Kamis, 28 Juli 2011
Sponge Bob
Si muka kuning bercelana kotak sore ini beraksi lagi.
Suatu pagi ia membuka pintu rumah nanasnya seperti biasa. menyapa tetangga tentakelnya, namun tanpa balasan.
kemudian mengetuk rumah batu milik si bintang laut tak juga ada jawaban. berjalanlah ia menuju tempat kerjanya
tercinta, crusty crub, .
kemudian mengetuk rumah batu milik si bintang laut tak juga ada jawaban. berjalanlah ia menuju tempat kerjanya
tercinta, crusty crub, .
berlajan santai dan bergaya seperti tak ada yang aneh , walau sebetulnya ia merasa janggal dengan hal-hal
yang baru saja ia temui hari itu.
Di tengah perjalanan menuju tempat bermainnya dengan spatula kesayangannya, tak ia temui seekor makhluk pun. hanya beberapa kapal yang bersandar. namun ia teruskan perjalanannya.
sampailah di tempat kerja, ia menyapa bos kepitingnya, memasak daging, dan melakukan aktivitas-aktivitas lain seperti biasanya.
Lama kelamaan, kejanggalan semakin terasa. Itu ia rasakan ketika tak menemui squid ward di depan mesin kasir, dan tak ada si tuan pelit di kursi kerjanya, ternyata.
yang baru saja ia temui hari itu.
Di tengah perjalanan menuju tempat bermainnya dengan spatula kesayangannya, tak ia temui seekor makhluk pun. hanya beberapa kapal yang bersandar. namun ia teruskan perjalanannya.
sampailah di tempat kerja, ia menyapa bos kepitingnya, memasak daging, dan melakukan aktivitas-aktivitas lain seperti biasanya.
Lama kelamaan, kejanggalan semakin terasa. Itu ia rasakan ketika tak menemui squid ward di depan mesin kasir, dan tak ada si tuan pelit di kursi kerjanya, ternyata.
Kemudian ia pulang dan akhirnya menyadari bahwa mereka, kawan kawan lautnya telah pergi entah kemana.
Sedih terasa, namun ia mencoba membohongi hatinya.
Ia mulai memerankan tokoh-tokoh sahabatnya untuk memecah kesepiannya.
Ia ke rumah squid, menuju ruang santainya dan memainkan klarinet.
Sedih terasa, namun ia mencoba membohongi hatinya.
Ia mulai memerankan tokoh-tokoh sahabatnya untuk memecah kesepiannya.
Ia ke rumah squid, menuju ruang santainya dan memainkan klarinet.
Ia ke rumah batu patrick star dan berperan seolah-olah ia adalah sahabat pink-nya itu,
ke tempat sandy ...
dan seterusnya ia memerankan tokoh sahabat-sahabatnya tercinta yang hilang,,
lelah ia berpura-pura kemudian ia nangis dengan keras,
ia bilang ia ingin sahabat-sahabatnya kembali
ia sangat merindukan mereka
..
dari satu makhluk itu, kita bisa belajar.
tentang mengerti, memahami arti seseorang di dalam hidup kita.
tentang teman
tentang sahabat
tentang kekasih
tentang keluarga
seberapapun kecilnya peran mereka dalam mewarnai hidup kita,
percayalah, bahwa tak kan pernah ada yang bisa menggantikan satu posisi seorang dengan siapapun
lelah ia berpura-pura kemudian ia nangis dengan keras,
ia bilang ia ingin sahabat-sahabatnya kembali
ia sangat merindukan mereka
..
dari satu makhluk itu, kita bisa belajar.
tentang mengerti, memahami arti seseorang di dalam hidup kita.
tentang teman
tentang sahabat
tentang kekasih
tentang keluarga
seberapapun kecilnya peran mereka dalam mewarnai hidup kita,
percayalah, bahwa tak kan pernah ada yang bisa menggantikan satu posisi seorang dengan siapapun
Senin, 25 Juli 2011
untuk setangkai bunga
Tuhan,
telah Kau tanamkan sebiji kelembutan
mulia, agung, nan sejati
telah tertulis lembaran kisah
terlalui sedih, bahagia, indah, dan tak kan
pernah terhapus
hamba inginkan seteguk harapan
yang menjadi sumber kekuatan
dalam setiap langkah kaki dan hembusan nafas
takdirMu telah tertulis
mengisahkan sebuah perjuangan yang harus dimenangkan
andai harus aku lewati hutan duri di setiap sisi
jalan itu
aku rela...
andai harus aku lalui gelombang terjal di seluas
samudra itu
aku ikhlas...
kalo di ujung perjalananku
adalah setangkai bunga indah
yang menjadi tempat hinggap bagi seekor
kupu-kupu
sebagai hadiah yang abadi
di atas bumi dan di atas langit
(25.7)
Kamis, 21 Juli 2011
Aku ingin...
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..
(sapardi djoko damono)
Selasa, 12 Juli 2011
...penat
mendidih otakku,,,
terbakar sepi di ujung sisi
di langit sebelah sana
mual segala keinginanku
beku oleh dinginnya perayaan
aku lemparkan semua amunisi
tersisa beberapa butir sebagai
pengganjal luka
teriakan mereka hanya bisikan semut
pulau yang tertinggal tak seindah
hijaunya pesona kebun teh kala itu
dermaga yang terpijak bukan
sudut terindah untuk memandang pulau selayar
berkeliling aku mengitari senja
menanti malam
dimana rasi bintang yang paling terang...
tertunduk di bawah kegelapan
memeluk takdir
untuk bangun bersama senyuman fajar
(selasa,12/7)
terbakar sepi di ujung sisi
di langit sebelah sana
mual segala keinginanku
beku oleh dinginnya perayaan
aku lemparkan semua amunisi
tersisa beberapa butir sebagai
pengganjal luka
teriakan mereka hanya bisikan semut
pulau yang tertinggal tak seindah
hijaunya pesona kebun teh kala itu
dermaga yang terpijak bukan
sudut terindah untuk memandang pulau selayar
berkeliling aku mengitari senja
menanti malam
dimana rasi bintang yang paling terang...
tertunduk di bawah kegelapan
memeluk takdir
untuk bangun bersama senyuman fajar
(selasa,12/7)
Kamis, 07 Juli 2011
Apabila cinta memanggilmu, ikutlah dengannya
meski jalan yang akan kalian tempuh terjal dan berliku
dan apabila sayap-sayapnya merengkuhmu, pasrahlah serta menyerahlah,
meskipun pedang yang tersembunyi di balik sayap itu akan melukaimu
dan jika ia bicara kepadamu, percayalah
walaupun ucapannya membuyarkan mimpimu,
seperti angin utara yang memporak-porandakan pertanaman
sebagaimana ia membumbung, mengecup puncak-puncak ketinggianmu,
membelai mesra ranting terlembut yang bergetar dalam cahaya matahari,
demikian pula dia menghujam ke dasar akarmu,
mengguncang dari ikatanmu dengan tanah
-katakan cinta, kahlil gibran-
meski jalan yang akan kalian tempuh terjal dan berliku
dan apabila sayap-sayapnya merengkuhmu, pasrahlah serta menyerahlah,
meskipun pedang yang tersembunyi di balik sayap itu akan melukaimu
dan jika ia bicara kepadamu, percayalah
walaupun ucapannya membuyarkan mimpimu,
seperti angin utara yang memporak-porandakan pertanaman
sebagaimana ia membumbung, mengecup puncak-puncak ketinggianmu,
membelai mesra ranting terlembut yang bergetar dalam cahaya matahari,
demikian pula dia menghujam ke dasar akarmu,
mengguncang dari ikatanmu dengan tanah
-katakan cinta, kahlil gibran-
Restoe Bumi
Sewangi...Bunga mawar tubuhmu Menghampar di permadani Mengetuk hasrat 'tuk menjamah Surgamu... Kilaumu...Bagaikan mutiara Menghiasi muka bumi Warnamu yang kujilati Sendiri.. Kuyakinkan restu bumi Bangunkan jiwaku Basuhi raga kita Restu bumi leburkan hati Sucikan dari debu dunia Kuraba...Jiwamu yang bersahabat Kedipkan suasana hati Seiring sepi menjepit Sukmamu Seorang...Bijak 'kan memahami Cinta bukan dicari, diraih Cintapun hadir sendiri Kuyakinkan restu bumi(restu bumi kami) Bangunkan jiwaku(bangun jiwa kami) Basuhi raga kita(basuh raga yang kering) Restu bumi leburkan hati(basuh jiwa yang sepi) Sucikan dari debu dunia(melayang! berdua) (bangun jiwa kami) (basuh raga-raga kami) (restu bumi, restu bumi, restu bumi)
tiba-tiba teringat lagi ini,,
enak ditelinga..
interpretasi makna diserahkan pada hati masing-masing penikmat...
selamat menyelam...
Minggu, 03 Juli 2011
ayah...
ketika untuk kesekian kalinya
bantal harus basah
karna kegundahan, kegelisahan tak lagi tertahan
dan gelap menjadi saksi pilihan
terbayang...
seseorang berdiri di depan pintu
diam,
seolah berkata:
"menangislah..."
sambil menatapku dengan lembut
membiarkan air mataku semakin deras
kemudian,
perlahan mendekat
mengusap kepalaku sambil berbisik:
"sss...t
diamlah putriku...
dunia tidak akan pernah melukaimu
diamlah...
kau harus tetap berdiri menjawab dunia
karna ayah tidak mewarisi kelemahan
darahku adalah keberanian
dan ketegaran...
jangan pernah mengeluh
karna itu hanya melemahkan
tersenyumlah...
karna itu adalah kekuatan
jadilah pejuang yang memenangkan
pertarungan
dan ingatlah...
hidup adalah tempaan agar kau belajar
hadapi setiap perjalanannya dengan langkah yang elegan"
...
yang aku tau,
ayah menyayangiku
walau hanya empat tahun kita bersama
I LOVE YOU, DAD
...
rinduku tak pernah habis untuk ayah
Ya Alloh....
pertemukan kami di surga
...
buat sahabat semua,
yang masih bisa menikmati tv bersama ayahnya...
buatlah beliau menepuk pundakmu
dan berkata:
"aku bangga padamu"
sebelum masa kebersamaan itu diambil
oleh pemiliknya
...salam rinduku untuk ayah..
(coretan 12 feb taun lalu,dipost di nuqtipunya.multiply)
bantal harus basah
karna kegundahan, kegelisahan tak lagi tertahan
dan gelap menjadi saksi pilihan
terbayang...
seseorang berdiri di depan pintu
diam,
seolah berkata:
"menangislah..."
sambil menatapku dengan lembut
membiarkan air mataku semakin deras
kemudian,
perlahan mendekat
mengusap kepalaku sambil berbisik:
"sss...t
diamlah putriku...
dunia tidak akan pernah melukaimu
diamlah...
kau harus tetap berdiri menjawab dunia
karna ayah tidak mewarisi kelemahan
darahku adalah keberanian
dan ketegaran...
jangan pernah mengeluh
karna itu hanya melemahkan
tersenyumlah...
karna itu adalah kekuatan
jadilah pejuang yang memenangkan
pertarungan
dan ingatlah...
hidup adalah tempaan agar kau belajar
hadapi setiap perjalanannya dengan langkah yang elegan"
...
yang aku tau,
ayah menyayangiku
walau hanya empat tahun kita bersama
I LOVE YOU, DAD
...
rinduku tak pernah habis untuk ayah
Ya Alloh....
pertemukan kami di surga
...
buat sahabat semua,
yang masih bisa menikmati tv bersama ayahnya...
buatlah beliau menepuk pundakmu
dan berkata:
"aku bangga padamu"
sebelum masa kebersamaan itu diambil
oleh pemiliknya
...salam rinduku untuk ayah..
(coretan 12 feb taun lalu,dipost di nuqtipunya.multiply)
sebuah kisah
...sebuah kisah telah tercatat di atas lembaran sejarah,,,menghiasi buku kehidupan sebelum sampulnya ditutup dan menjadi kenangan
based on july the 2nd
based on july the 2nd
Sabtu, 02 Juli 2011
lost...
lengkap sudah hari ini,,,
pulang workshop dari SD Negeri 03 Jaten,
tak direncana kita naik arah tawangmangu,,
niatnya sih untuk evaluasi,,nyari tempat nyaman..
hehem..
mengikuti putaran roda,, menikmati udara khas karanganyar beserta pemandangan hijau bukit
sampailah kita pada tempat yang cukup damai dari kebisingan aktivitas,
ngobrol sambil menikmati pemandangan..
parang ijo
hemm,,,,
hemm,,,,
time to go home..!
aku ambil jalur motong jalan.
sendiri,,
dengan pede aku ikuti intuisi arah pulang,,
g susah sih,,jalur yang biasa aku lewati untuk jurusan tawangmangu..
sampai pada suatu saat...
ada yang g beres,,
jalan terus ,,kog ada ujungnya...
g sampe-sampe
sudah g logis untuk jarak sragen
mana kerjo,,jamus..
belum ada tanda-tanda dekat dengan daerah itu...
berhenti di perempatan karna lampu merah, aku inisiatif tanya pada pengendara motor cowok,entah apa motornya, g sempat mengamati...
"mas, arah sragen mana ya,,"
"wah, sana " (sambil menunjuk arak belakang).
"di mojogedang tadi harusnya belok kanan"
"kalo kesana (nunjuk depan), unjungnya mana,mas"
"palur,tapi jauh. balik lagi aja,bu". sempat-sempatnya merasa "kog aku dipanggil ibu ;("
lampu nyala ijo, aku balik...
sekitar dua kilo aku jalan, ragu...
sebelah mana ku harus belok..
aku putuskan untuk tanya lagi..
panjang conversationnya, jadi aku langsung intinya aja ya,,
kalo kembali ke arah sebelumnya,, entah, aku g yakin g akan tersesat lagi...
so, aku putuskan ke arah palur.
melanjutkan kesesatanku.
sampai pada jalan yang aku kenal,
"ini kan jalan aku berangkat tadi"
tenanglah aku, tinggal ngikuti jalur.
puter gas lebih kenceng
tiba-tiba,,
banyak klakson dibunyikan,,
oh..alun-alun
pantes rame,,
tapi kog,,
"hoi...hoi...kliru"
"hoi..kliru"
teriakan keras, kasar dari beberapa mulut,, aku pastikan lebih dari dua mulut..
kaya meneriaki maling,,,
ha,,,
ternyata...
jalan searah...
teriakan itu dipersembahkan khusus untukku...
panikkk..
langsung segera minggir, turun,,dan tanya...
langsung segera minggir, turun,,dan tanya...
pada penjual gorengan
"kalo mau ke sragen, lewatnya mana ya bu"
"duh,, sragen ngendi ,pak. po liwat mojogedang po ngendi?" , beliau tanya pada suami yang ada di sampingnya.
mendengar kata Mojogedang, langsung aku potong'
"palur bu,, mau ke palur"
seperti trauma dengar kata itu,,karna di tempat itu kesesatanku dimulai..
seperti trauma dengar kata itu,,karna di tempat itu kesesatanku dimulai..
"ooo,palur..muteri ini, nanti lurus ikuti jalur itu, belok kanan,, trus kiri terus,, nanti sampai rel itu"
"muter ini ya bu ya"
"iya"
yakin aku tau, karna pernah lewati jalan itu, muter alun-alun pas ke tempat nuryanti.
so, ikuti aja...
pikirku, dah ketemu jalannya...
ee,,,
lha kog g ada tanda tanda harus belok kanan pada perempatan, ato pertigaan sebelah mana..,
oke deh,,
tanya lagi..
ibu-ibu penjual jamu..
mau nyebrang,,,
tak cegat...
"bu, nyuwun pirso. palur niku, jalure pundi nggih?". ya,,ya..aku g pandai bahasa halus.
"oo,,niki lurus. mengke enten smk belok kanan, trus belok kiri. mpun, lurus terus mengkde dugi rel niko"
aku ulangi untuk memastikan dan ibu itu pun kembali menjelaskan.
sempat ragu ketika belok, smk mana yang dimaksud, tapi akhirnya...
sampailah jalur palur,, tinggal lurus...
tancep kenceng...
....
liat mal luwes,,
akh akhirnya...
puter palur,,
sampailah jalur ke kota tercinta,,
ohhh,,,,,,,,, solo-sragen,,,,,,i love you....
...
home sweet home,,
kalimat pertamaku
"lancar,mi.."
"alhamdulillah.."
trus cerita kesasar,,
dengan segala pelampiasan yang menggebu-gebu..
ketawalah umi...
...
alhamdulillah,,sempurnalah hari ini...
-life is beatifull-
(sabtu,2juli)
Langganan:
Postingan (Atom)