Tampilkan postingan dengan label buku bagus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku bagus. Tampilkan semua postingan
Jumat, 19 Agustus 2011
Harus Bisa !
bukan bermaksud untuk mengajak fanatik terhadap seorang SBY, hanya mengajak untuk membuat penilaian menjadi lebih berimbang terhadap presiden kita. Melalui cerita-cerita yang di tuliskan oleh salah satu orang yang pernah menjadi orang paling dekat dengan beliau, juru bicara kepresidenan, dino patti djalal, mengalir, dan enak diikuti.
Melihat sisi yang berbeda, dari pengambilan kebijakan publik yang tak jarang menimbulkan kontroversi. Open sky policy, kenaikan harga BBM dll.
Tentang Kepemimpinan,
beberapa hal dari SBY dalam kepemimpinannya, diantaranya pentingnya Akhlak dalam memimpin, objektif, sangat memperhatikan detail, dan optimis.
Satu lagi, menggunakan INTUISI.
Buku yang patut dijadikan referensi bagi seorang pemimpin.
Diskripsi singkat mengenai buku dapat dilihat di: www.dinopattidjalal.com
Jumat, 05 Agustus 2011
RICH DAD POOR DAD
Apa yang diajarkan orang kaya kepada anak-anak mereka tentang uang- yang tidak diajarkan oleh orang miskin dan kelas menengah.
Sebuah permasalahan kata Robert T Kiyosaki, ketika orang tidak mengerti tentang finansial. Orang kaya maupun orang miskin. Sekolah mengajar banyak hal tentang teori-teori tapi tak pernah mengajarkan siswanya tentang bagaimana cara mengelola keuangan, sama sekali. Inilah yang mengakibatkan siapapun, dokter, akademisi, pengacara, bankir, bahkan ahli finansial mempunyai masalah keuangan, walaupun mereka sukses dalam karir mereka dan berpenghasilan yang besar.
Buku itu mengajak cara berpandang yang berbeda terhadap pekerjaan dan kekayaan.Belajar dari dua ayahnya, ayah yang kaya dan ayah yang miskin, Robert T Kiyosaki berbagi pada kita.Pelajaran pertamanya adalah : Orang kaya tidak bekerja untuk uang.
"Orang miskin dan kelas menengah bekerja untuk uang"
"orang kaya mempunyai uang yang bekerja untuk mereka".
Kebanyakan orang bekerja sebenarnya adalah didasari pada sebuah emosi. Yaitu, sebuah emosi akan dua hal, ketakutan dan keinginan.
Ketakutan akan tak dapat membiayai hidup, membayar kewajiban/tagiahan yang harus dibayar. Keinginan/ketamakan untuk menikmati sesuatu yang diingankan dengan uangnya. Mereka kemudian bekerja keras untuk mendapatkan uang, dan bekerja lebih keras lagi untuk mendapatkan gaji yang lebih, dan menganggap itu adalah solusi bagi ketakutan dan keinginannya. Namun sebenarnya itu bukanlah solusi, itu hanyalah solusi jangka pendek untuk permasalahan jangka panjang, seumur hidup.Emosi itu yang menggerakkan mereka, bukan pikiran mereka. Uang hanyalah ilusi, kenaikan gaji, banyaknya uang bukan merupakan solusi permasalahan.
Menggunakan pikiran, melihat apa yang tidak pernah dilihat oleh orang lain adalah hal yang seharusnya dilakukan. Hal itu adalah sebagian yang harus dipelajari untuk menjadi kaya dan menciptakan uang. "Bekerja untuk belajar, jangan bekerja untuk uang".
Selamat berekplorasi lebih dalam.
Inilah
RICH DAD, POOR DAD.
Robert T Kiyosaki
2007, cetakan kedua puluh tiga
PT SUN, Jakarta
238 halaman
(ada edisi yang lebih baru)
Kamis, 28 Juli 2011
The Art of War
The Art of War
satu frasa yang tentu tidak asing di telinga kita.
Sebuah Seni perang yang dibukukan karya Sun Tzu.
Sun Zi adalah ejaan yang sebenarnya paling tepat menggantikan Sun Tzu.
Sebuah Seni perang yang dibukukan karya Sun Tzu.
Sun Zi adalah ejaan yang sebenarnya paling tepat menggantikan Sun Tzu.
Sun Zi adalah ejaan yang benar dalam hanyu pinyin,yaitu ejaan dengan huruf Romawi untuk bahasa Cina yang digunakan di daratan Cina.
Zi dalam bahasa Cina digunakan untuk mengacu pada seorang filsuf. sehingga, Sun Zi berarti Filsuf Sun. seperti halnya Kong Zi (konfusius) dan Lao Zi (Lao Tzu).
banyak buku tentang Seni perang Sun Tzu/Sun Zi, diantaranya:
The Book of War (E.F. Chaltrop)
Sun Tzu: The Art of War (Samuel B. Griffith)
Sun Tzu in The Art of War (Lionel Giles)
Sun Tzu: The Art of War (Ralph D Sawyer)
semua merupakan buku terjemahan dari judul asli "Sun Zi Bingfa"
Zi dalam bahasa Cina digunakan untuk mengacu pada seorang filsuf. sehingga, Sun Zi berarti Filsuf Sun. seperti halnya Kong Zi (konfusius) dan Lao Zi (Lao Tzu).
banyak buku tentang Seni perang Sun Tzu/Sun Zi, diantaranya:
The Book of War (E.F. Chaltrop)
Sun Tzu: The Art of War (Samuel B. Griffith)
Sun Tzu in The Art of War (Lionel Giles)
Sun Tzu: The Art of War (Ralph D Sawyer)
semua merupakan buku terjemahan dari judul asli "Sun Zi Bingfa"
Buku ini menjelaskan secara mendalam dari setiap kata dan istilah yang digunakan menurut bahasa Cina (hanyu pinyin). dalam buku itu di jelaskan, bahwa pengambilan makna "Seni Perang Sun Tzu" atau "Sun Tzu the Art of War" untuk mengartikan "Sun Zi Bingfa" tidaklah tepat. Kata Bingfa digunakan dalam bahasa Cina kuno untuk mengacu pada berbagai strategi dan metode untuk menyebarkan tentara perang.Fokusnya adalah strategi dan metode bukan pada pelaksanaan perang. Sun Zi bukanlah seorang pendukung perang, baginya perang merupakan tindakan terakhir.Jadi makna yang tepat untuk "Sun Zi Bingfa"adalah Filsafat Militer Sun Zi.
Buku setebal 587 halaman itu juga membahas beberapa pelajaran dalam Sun Zi Bingfa yang tidak tepat untuk digunakan dalam bisnis.Contoh singkatnya adalah baris 1.30 berbunyi
"semua pertempuran didasarkan pada prinsip penipuan".
Dijelaskan bahwa penggunaan tipuan dalam peperangan digunakan terutama untuk menciptakan keuntungan bagi diri sendiri dan membuat musuh kehilangan kewaspadaan. Tanpa ragu lagi, tipuan digunakan dan diterima secara luas dalam pertempuran, dimana dimensi etisnya jarang dipertanyakan. Tipuan digunakan dalam berbagai bentuk dan sarana untuk membuat berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan dan untuk memperoleh suatu keunggulan yang menguntungkan bagi diri sendiri.Dalam suatu lingkungan di luar pertempuran, khususnya dalam dunia bisnis, praktik tipuan tentu saja tidak di sarankan.
rasakan pendekatan yang berbeda,
inilah Sun Zi Art of War
oleh Chow Hou Wee
Selamat menyelam...
Jumat, 08 Juli 2011
Think Big and Kick Ass
Donald J Trump & Bill Zanker
Dua otak bisnis paling ulung di dunia mengungkap RAHASIA di balik cara berpikir BESAR dan cara melakukannya untuk meraih kesuksesan tanpa tanding. Rahasia-rahasia tersebut antara lain:
- Momentum: Mo Besar. Cara Memperolehnya dan mendapatkannya kembali.
- Pembalasan: cara dan kapan melakukannya (dan mengapa pembalasan terasa sangat memuaskan).
- "Aku mencintaimu, sekarang tanda tangani ini!" Mengapa kontrak dalam bisnis dan kehidupan pribadi sangat penting.
- Kisah nyata orang-orang yang telah menerapkan resep berpikir BESAR dalam kehidupan mereka sendiri.
"Berpikir Besar adalah semboyan yang saya anut sejak remaja dan terbukti efektif dalam meraih kesuksesan. Bill juga mempunyai sikap ini dan hasilnya jelas. Menulis buku ini bersama Bill menjadi pengalaman menghajar bagi kami berdua dan kami ingin Anda tidak saja menikmati hasilnya, tapi juga sekaligus belajar banyak. Kami berharap dapat melihat Anda semua meraih impian terbesar Anda. Dan, bila bekerja keras, Anda pasti berhasil!"
-- DONALD J. TRUM
-- DONALD J. TRUM
sebuah buku bagus, untuk siapa saja yang menjadi orang besar
Minggu, 03 Juli 2011
Cracking Zone
Cracking zone adalah suatu istilah yang dipergunakan untuk menggambarkan masa transisi dari era ekonomi industri memasuki era ekonomi baru yang didominasi oleh perkembangan teknologi informasi dan keterbukaan informasi. Banyak perubahan yang diusung, mulai dari skala mikro yang proses kerja, model bisnis, budaya organisasi, sampai dengan tatanan yang lebih makro, yaitu budaya masyarakat, sampai dengan strategi pertahanan dan keamanan negara. Sesungguhnya era ekonomi industri telah melahirkan banyak kemapanan dan pada beberapa sisi, kemapanan itu membuat kita terlena alias terperangkap di comfort zone. Era ekonomi baru menuntut sesuatu yang baru, mulai dari strategi yang baru, proses kerja baru, sampai budaya yang baru. Nah, proses perubahan inilah yang disebut cracking, dan pemimpin yang mampu membawa perubahan itu disebutcracker .
Perkembangan aktor-aktor cracking zone seperti perangkat telekomunikasi, social media seperti facebook, twitter, dan blog, dan sebagainya, telah membawa angin perubahan baru. Interaksi manusia menjadi semakin luas jangkauannya dan bisa semakin intensif walaupun tidak pernah bertemu wajah secara langsung. Informasi mengalir dengan cepat dan bebas ke mana saja lintas batas negara. Proses penyensoran informasi seakan-akan menjadi sesuatu yang sia-sia karena akan selalu muncul cara alternatif yang menyiasatinya. Rantai komunikasi antar manusia menjadi semakin pendek dan hirarki seakan-akan terpotong.
Cracking zone membawa budaya birokratis menjadi lebih humanis, efektif, dan efisien. Pada era ini, kecepatan (speed) menjadi kata kunci sehingga proses yang bertele-tele sudah tidak zamannya lagi. Sebuah berita sekecil apapun bisa tersebar dengan cepat melalui internet, apalagi berita besar atau kontroversial yang menarik perhatian publik. Masyarakat sudah menjadi peliput berita yang dikenal dengan istilah citizen journalism yang secara perlahan-lahan “mengambil alih pekerjaan wartawan”.
Cracking zone membawa budaya birokratis menjadi lebih humanis, efektif, dan efisien. Pada era ini, kecepatan (speed) menjadi kata kunci sehingga proses yang bertele-tele sudah tidak zamannya lagi. Sebuah berita sekecil apapun bisa tersebar dengan cepat melalui internet, apalagi berita besar atau kontroversial yang menarik perhatian publik. Masyarakat sudah menjadi peliput berita yang dikenal dengan istilah citizen journalism yang secara perlahan-lahan “mengambil alih pekerjaan wartawan”.
Para era ini muncul apa yang disebut dengan C-Gen atau Connected-Generation, di mana generasi ini ditandai dengan kemampuan mereka untuk saling terhubung dan bertukar informasi dengan cepat. Pada generasi ini, sebuah berita akan tersebar dengan cepat, terlepas dari kebenaran isi berita tersebut. C-Gen ini pulalah yang memiliki kemampuan untuk menjalankan fungsi citizen journalism. Benturan budaya dengan generasi yang lahir di masa perang dingin sangat mungkin terjadi, di mana pada generasi tersebut birokrasi dan kerahasiaan menjadi sesuatu yang penting, sedangkan pada C-Gen, kata kunci mereka adalah sharing dan transparansi. Bertolak belakang bukan?
Sejalan dengan Charles Handy yang terkenal dengan The Age of Paradox, pada cracking zone juga terjadiparadox, di mana aktivitas pemasaran menekankan kepada freemium atau memberi gratis terlebih dahulu baru mendapatkan profit (lihat teorinya Chris Anderson tentang Free ini), sementara daya beli menjadi semakin meningkat.
Pada era ini, dibutuhkan pemimpin yang berjiwa cracker, yaitu yang berani untuk tidak populer untuk melakukan perubahan dengan cara membawa organisasinya keluar dari comfort zone. Siapapun akan sangat gusar dan kesal jika harus keluar dari comfort zone ini, tetapi demi sebuah pembaharuan dan perbaikan, sang cracker harus mampu melakukannya. Cracker harus mampu membuat terobosan dan membawa hal-hal baru demi kemajuan organisasi. Generasi yang lahir di era perang dingin, biasanya adalah mereka yang paling terusik dan kesal dengan fenomena cracking zone ini.
So, bagaimana dengan anda? Siapkah melaju di cracking zone?
ulasan oleh riri satria
Langganan:
Postingan (Atom)




